Saya terpikir untuk menyembunyikan sayuran
tersebut dalam menu Haura, langkah pertama
1. sayuran di haluskan lalu dicampurkan
ke nasi, adonan nugget, adonan bakso, cake, puding dll
2. beberapa minggu tekstur sayuran saya buat agak
kasar dengan dirajang kecil-kecil
3. campuran sayuran selanjutnya dirajang agak besar
4. dannnnn tibalah waktunya Haura mau makan
sayuran dalam bentuk utuh
Teringat sekali saat itu pagi hari saya
menanyakan menu apa yang Haura inginkan
"Kakak mau makan apa ?"
"Aku mau makan pumpkin sama bayam mam"
#shock ya untuk pertama kalinya ia meminta
sayuran, rasanya saya ingin meneteskan air mata bahwa perjuangan saya tidak
sia-sia. Selama 4 bulan saya melakukan 'terapi makan sayur' pada Haura, emosi saya pun dibuat naik turun #elusdada.
 |
| yummy |
Saya tidak ingin jatuh ke lubang yang sama, saya
terus belajar tentang makanan yg sehat itu seperti apa. Saya kurangi asupan
gula pada Haura , konsumsi gluten pun saya batasi minimal 3 hari sekali, produk
olahan seperti sosis dan kemasan saya singkirkan, pemakaian santan selalu
santan segar tidak ikut didihkan, untuk menumis/ menggoreng tidak saya gunakan
mentega lagi, membuat pudding pun memasukkan buah tidak seperti dulu yang ikut
didihkan, dll. Huaaaaa Banyak sekali perubahan yang saya lakukan , semuanya demi keluarga
khususnya Haura saat itu. i'm not a cook nor chef, i'm just an ordinary mom who loves to cook for my husband, my daughter & son.
 |
| pure pear |
Pelan-pelan saya pun memberikan buah-buahan sesaat
setalah bangun tidur berupa jus atau buah potong, tidak lupa kami selalu
mencontohkan makan sayuran dan buah dengan lahap di depan Haura. Sebelum tidur
saya selalu ceritakan tentang manfaat sayuran dan buah pada Haura, ibarat iklan
yang terus kita lihat dan dengar setiap hari saya berharap manfaat sayuran dan
buah pun tertanam pada Haura. Untuk beberapa orang mungkin terdengar dan
terlihat aneh karena menurut mitos makan buah dengan perut kosong akan membuat
sakit perut, tapi kenyataannya tidak. Untuk ‘kegiatan’ kami yang satu ini cukup
mendapat pertentangan di lingkungan sekitar, “Pagi ko dikasi makan buah” “Teganya
sarapan dikasi buah” , “Anaknya nanti diare” , tapi Alhamdulillah kami tidak merasakan
apa yang ditakuti orang-orang sekitar yang ada kami merasa tubuh lebih fresh. Anak
peniru ulung , kalau menginginkan anak berbuat baik maka orang tua harus mencontohkannya begitu juga
dengan makanan bagaimana mungkin anak akan makan makanan yg sehat jika Ayah
Ibunya tidak mencontohkan, saatnya berintrospeksi diri RIGHT ?
 |
| suapan pertama |
24 Maret 2011 hadirlah bayi laki-laki yang
kami beri nama Hanif Asyadda Wibowo, untuk Hanif persiapan memberikan ASI dan
MPASI nya lebih maksimal dibandingkan Haura. Saya tidak ingin melakukan
kesalahan yang sama, saya belajar dari kesalahan yg telah saya perbuat dulu karena
minimnya ilmu, pengetahuan dan informasi yg saya dapat. Saat hamil saya rajin
mengikuti Kelas Edukasi AIMI , buku-buku tentang MPASI pun tidak lupa saya
beli dan baca sampai tamat, perlengkapan MPASI saya beli dengan lengkap walaupun kenyataan di
lapangan beberapa perlengkapan MPASI
banyak yg tidak terpakai.
24-Oktober 2011 Hanif lulus ASI eksklusif dan
mulai makan untuk pertama kalinya, hari pertama saya memperkenalkan pure pear
Alhamdulillah langsung habis tanpa ada keulitan sedikitpun saat menyuapi. Setiap bahan makanan saya tes selama 3 hari jika tidak ada
reaksi alergi saya nyatakan lulus dan saya catat agar tidak lupa. Memasuki umur
7 bulan Hanif mulai makan bubur lembut, nah untuk penyajian saya
mengikuti saran dr.Purnamawati dengan memisahkan bahan makanan tidak dicampur
aduk dan dicampur jadi satu. Tujuannya agar anak mengenal rasa masing-masing
makanan sehingga rasanya enak dan jelas juga lebih cantik dan menarik.
Sebelumnya saya ragu apakah saya akan sempat menyiapkan makanan yg
terpisah-pisah mengingat tidak ada ART yang membantu tapi dengan berjalannya
waktu alhamdulillah semua terhandle dengan baik. Saya ingin membuktikan MPASI
homemade/memberikan makanan sehat alami itu tidak repot, insyaAllah kalau ada niat pasti ada jalan.
Hal yang paling penting dalam pembelajaran kali ini adalah belajar berempati. Berempati dengan tidak mengukur ambang cita rasa bayi yang masih sangat sensitif dengan ambang cita rasa kami. Bayi tidak mengenal kurang gurih, kurang asin, kurang manis seperti ketakutan para orang tua khususnya ibu yang tidak PD memberikan makanan no gulgar pada bayinya. Dahi saya mengernyit saat melihat Hanif dengan lahapnya memakan kecipir kukus dan ikan lele kukus tanpa tambahan gula garam sedikit pun. Tapi ya itu terjadi, bayi memang masih sangat sensitif ^_^.
Pagi hari saya menyiapkan jus atau buah potong
dan menu sarapan karbo yang simple, Alhamdulillah ada teman yg berbaik hati
juga yang memberikan saya Slow Cooker, jadi pagi hari sebelum mengantar Haura
sekolah saya masak bubur untuk Hanif walalupun terkadang karbo tidak hanya dari beras bisa dari bahan lainnya seperti kentang, singkong, ubi, dll. Saat pukul 11 siang setelah menjemput
Haura sekolah saya menyiapkan sayuran lauk untuk makan siang , karena kebiasaan
saya selalu menyiapkan makanan sesaat sebelum dimakan terutama sayuran. Untuk
mempermudah bisa dibuatkan jadwal masakan baik untuk MPASI dan makanan utk
dewasa sehingga saat belanja pun sudah terbayang apa saja yang akan di masak
per hari itu. Tidak lupa selalu meyiapkan bumbu bawang (bawang putih+bawang
merah dihaluskan lalau digoreng), ini sangat membantu sehingga waktu memasak menu
kakak / dewasa menjadi lebih cepat.
Memasuki umur 8 bulan kegiatan memasak MPASI
lebih seru karena ada penambahan protein, yang paling seru saat saya harus
berhadapan dengan si ikan lele, rasanya mau pingsan saat saya menyentuh badan
ikan yg licin sekali dan bentuknya yang menjijikan seperti ular tapi demi
anak-anak saya rela detak jantung saya berdetak lebih cepat #lebayy .
Tidak terasa Hanif sudah 11 bulan makanannya sudah mulai cincang kasar tidak
dihaluskan kembali, ia sedang belajar mengunyah.
Waktu
|
MENU MAKANAN
|
Hanif
|
Haura
|
Papap+Mamam
|
pagi
|
jus pepaya jeruk
|
kabocha kukus
|
kabocha kukus
|
Pepaya potong porsi
besar
|
telur rebus
|
camilan
|
buah
|
siang
|
steam/kukus ikan
|
ikan bakar
|
ikan bakar+sambal
|
sayur kangkung
|
tahu goreng
|
tahu goreng
|
tomat rebus
|
sayur kangkung
|
tumis kangkung rawit
|
camilan
|
jagung rebus
|
malam
|
tahu kukus
|
tumis tahu buncis
|
buncis rebus
|
Ya
entah mengapa saya sangat menikmatinya
,
mungkin bagi beberapa orang merasa kerepotan mengurus dua balita tanpa bantuan
siapapun tapi Alhamdulillah sampai sekarang tidak menemukan kendala yang
berarti walaupun kadang saya merasa jenuh tapi jika melihat senyum dan lahapnya
mereka memakan makanan yang saya sajikan semua rasa jenuh, lelah itu hilang
seketika. Saya hanya berdoa agar saya selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT agar selalu bisa menyiapkan makanan sehat alami untuk suami dan kedua anak saya.
Kami
merasakan sendiri semenjak pola makan anak-anak teratur dan tidak 'sembarangan'
daya tahan tubuh mereka bagus selain karena Haura yang mendapatkan ASI selama
26 bulan dan Hanif yg masih ASI sampai saat ini. Tidak cukup puas dengan diri
sendiri saya pun berusaha mengajak dan mengingatkan beberapa teman yang lain, tujuan
saya hanya satu agar mereka tidak melakukan kesalahan seperti saya. Kondisi
beberapa teman yang dengan santainya tidak memberikan makanan pada anaknya
karena anaknya tidak mau makan hanya mau minum susu formula, atau konsumsi
bahan kemasan setiap hari atau para bayi berumur 4 bulan yang sudah diberi
makanan instan membuat saya sedikit gemes. Ternyata tidak mudah juga memberikan
masukan, mengingatkan apalagi saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa dengan
background bukan dari kesehatan. Mindset masyarakat yang sangat mengagungkan
susu formula dan makanan kemasan itu susah sekali diluruskan, belum lagi iklan makanan kemasan dan susu formula yang sangat
gencar baik di media elektronik dan media cetak. Belum lagi sampai saat ini
saya merasakan kurangnya dukungan pemberian ASI dan MPASI homemade di tempat saya tinggal. Saya pun berangan-angan dan bermimpi bisa menghadirkan para konselor
laktasi atau ahli gizi di kota kecil tempat saya tinggal ini, saya berharap
jika seorang pakar yg menjelaskan mungkin para ibu jadi terbuka pikirannya.

Alhamdulillah
setelah tanya sana-sini dan mengajukan usulan ke Persatuan Istri Karyawan
tempat suami saya bekerja, akhirnya tanggal 19 Februari 2011 Bapak Wied Harry
mengadakan talkshow dan demo makanan sehat di kota tempat saya tinggal. Hasilnya
sungguh luar biasa di luar perkiraan para ibu sangat antusias sekali mengikuti
acara tersebut dan sudah bisa ditebak banyak yang terkaget-kaget dengan
penjelasan Pak Wied Harry. Selesai acara saya mendengar para peserta langsung
berbelanja buah-buahan dan sayuran, perasaan saya senang bahagia rasanya
seharian itu saya ingin tersenyum setiap saat. Saya masih punya mimpi semoga
virus ASI ,MPASI dan Toddlerfood homemade bisa tersebar di Bumi Batiwakal ini
(red : Berau). Semoga suatu saat nanti AIMI bisa mengadakan kelas edukasi di
sini dan Pak Wied Harry bisa mengadakan Talkshow dan demo makanan sehat lagi
dengan peserta masyarakat luas. Saya tidak ingin sendirian saya ingin semua
terserang 'virus makanan alami’
Memberikan
makanan instan memang sangat mudah hanya menyeduhnya dengan air panas tidak
butuh waktu yang lama dan perlengkapan yang ‘rempong’ tapi saya lebih tidak
tega membayangkan betapa ‘rempong’nya pencernaan anak-anak mengolah segala
macam food additives di dalam nya. Memberikan makanan sehat yang alami adalah sebuah investasi besar untuk anak, hasilnya akan sangat terasa saat mereka tumbuh besar dan dewasa. Ber’homemade’ria sangat membutuhkan niat dan ilmu, niat tanpa
ilmu tidak akan bisa, ilmu tanpa niat pun tidak akan jalan. Menjadi seorang ibu
harus terus belajar belajar dan belajar …. “Karier memberikan makanan sehat alami pada anak (dan mendidik anak) adalah
sebuah karier sekali lewat dalam seumur hidup. Tidak pernah dikejar ulang”
kutipan Wied Harry yang selalu membuat saya bersemangat setiap harinya ^_^
Haura, Hanif….
Semoga ikhtiar Mam&Pap saat ini, kelak bisa
menjadi bekal yang memadai, saat kalian besar nanti…..Aminnnnn
Happy
Healthy Cooking ^_^